27 Oktober 2008

Sekilas : Pembangkit Listrik Tenaga Surya

Solar cell atau sel surya merupakan lembaran yang terdiri dari bahan semikonduktor yang berfungsi mengubah cahaya matahari (surya) menjadi energi listrik. setelah menjadi energi listrik, kita bisa memanfaatkannya untuk berbagai kebutuhan seperti penerangan, televisi dll maupun untuk usaha.
mengenai biaya, sistem pembangkit listrik tenaga surya ini membutuhkan beaya awal yang relatif besar, selain karena harga panel sel surya yang masih mahal, juga efisiensinya masih relatif rendah. sehingga masih sedikit yang memanfaatkannya. Namun akhir-akhir ini banyak orang yang tertarik menggunakan sel surya karena dengan cepatnya teknologi semikonduktor, sel surya menjadi lebih murah, efisiensi lebih tinggi dan kapasitas lebih besar, juga keuntungan ramah lingkungan. selain itu, tidak adanya investasi dibahan bakar, sangat memungkinkan dalam jangka panjang sel surya mampu bersaing dengan sumber energi BBM atau bahkan lebih murah.
Untuk instalasi/pemasangan sel surya dirumah-rumah, sel surya dapat diletakkan diatap rumah, kemudian dengan perantara inverter, bisa langsung disambung ke beban dan ke baterai penyimpan standar 12 V dengan kapasitas disesuaikan dengan kebutuhan. pada siang hari baterai akan menyimpan energi dari sel surya untuk digunakan pada malam harinya. Sel surya juga dapat digunakan untuk menghemat rekening listrik, jika pemakai masih berlangganan listrik ke PLN, karena dengan alat tertentu, penggunaan listrik PLN hanya digunakan jika daya dari sel surya tidak mencukupi kebutuhan. untuk sistem yang paling sederhana, sel surya dapat menghasilkan daya sekitar 4 lampu pijar (1 lembar panel sel surya ada yang berkapasitas 50Wp dan 80Wp) dan sistem ini dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan pemakai dengan menambah panel-panel sel surya. contoh instalasi sel surya dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

Gambar 1. contoh instalasi sel surya dengan sistem individu

Bagaimana dengan perawatan?
Perawatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) lebih sering diperlukan pada baterai, jika penggunaan dan perawatan sesuai dengan aturan, rata-rata umur baterai bisa awet sampai 5 tahun, sedangkan biaya perawatan lainnya cenderung sedikit dan murah.

Sebagai contoh aplikasi sel surya diperumahan:
Lokasi :
Official BPPT House - Pondok indah
Kapasitas :
PV Module 2000 Wp
Inverter 5 kVA
Baterai 24 kWh

Selamat mencoba.

Cuk san
Staff BPPT Pusat Jakarta

26 Oktober 2008

Pemodelan wind power

Gambar1. stand-alone wind power generation

Pemodelan sistem di berbagai bidang sangatlah penting untuk keperluan analisa kehandalan, analisa kegagalan, analisa kestabilan dan lain-lain. begitu juga didalam power system, masing-masing komponen perlu dimodelkan sebelum diaplikasikan. Salah satu komponen power system yang sangat familiar adalah pembangkit listrik tenaga angin (PW).
mengingat pentingnya pemodelan, dalam tulisan ini akan dibahas sekilas tentang pemodelan wind speed dan wind power generation dengan rujukan dari beberapa Journal internasional.

1. Wind speed model
Pemodelan kecepatan angin juga penting karena Daya dari PW sangat tergantung pada kecepatan angin itu sendiri. kecepatan angin dapat dimodelkan dengan 4 komponen(Dong-Jiang,2008) yaitu
a. Base wind component
merupakan kecepatan dasar dari angin tersebut dan dapat diformulasikan dengan fungsi :
Vb=Kb
dimana Kb adalah konstan yang selalu diasumsikan sebagai rata-rata wind power

b. Gust wind component

c. Ramp wind component
d. Noise wind component
dan total kecepatan angin merupakan hasil penjumlahan dari semua komponen diatas.

2. Wind power generation

keluaran daya dari wind generator dapat dinyatakan dengan fungsi non linear dari power coefficient yang terdiri atas fungsi blade pitch angle dan tip speed ratio.
fungsi tip speed ration dapat dijabarkan sebagai berikut
kemudian power coefficient bisa dinyatakan dengan fungsi dibawah ini
Akhirnya, kita mendapatkan mechanical power dari wind generator berikut ini
Jadi daya yang dihasilkan oleh wind generator ditentukan oleh berat jenis angin, luas daerah yang dilalui baling-baling dan kecepatan angin.

Demikian, pemodelan wind power secara sederhana.

Semoga bermanfaat


Cuksan
Staff BPPT pusat Jakarta

Proyek pembangunan pembangkit listrik Tahap II

Dari berbagai sumber

Setelah proyek percepatan pembangunan pembangkit listrik tahap I yang menurut jadwal akan selesai tahun 2009, pemerintah akan melanjutkan pembangunan pembangkit listrik tahap II yang direncanakan memakan kurun waktu 5 tahun dari 2009 hingga 2013 dengan kapasitas 10 ribu MW. Pelaksanan proyek ini diperkirakan baru berjalan pada era kabinet baru mendatang. ini diungkapkan oleh Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro seusai rapat koordinasi dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla di Jakarta (4 juni 2008). Sedangkan dana yang yang dibutuhkan mencapai sekitar Rp 100 triliun. Pola pendanaan proyek ini banyak ditanggung oleh swasta dengan persentase pendanaan sekitar 80% yang sedang dimatangkan apakah memerlukan Letter of Support dari menteri keuangan atau tidak. sedang sisa dana yang dibutuhkan sebesar 20% akal ditanggung oleh PT.PLN.
Direktur Utama PLN Fahmi Mochtar mengatakan, proyek akan dibiayai melalui penerbitan global bond dan perbankan dari dalam dan luar negeri. Menurut dia, pihaknya telah menandatangani kesepakatan pinjaman dengan Bank of China dan China Exim Bank untuk proyek tersebut.

Mengenai Jenis pembangkit yang akan dibangun, rencana 30 persen sumber energi utama proyek menggunakan batu bara. Proyek ini tersebar di 35 lokasi di Indonesia, yang sebagian besar dibangun diluar pulau Jawa yaitu 25 lokasi dan 10 lokasi lainnya berada di Pulau Jawa dengan alasan beban pembangkit listrik batu bara di Jawa sudah cukup tinggi. Nantinya, kebutuhan listrik di Jawa akan disalurkan melalui transmisi dari luar Jawa .
Selain batu bara, rencana proyek ini juga akan menggunakan sumber energi dari panas bumi, air, dan energi terbarukan. Potensi panas bumi dalam negeri sekitar 27.000 MW. Potensi energi air mencapai 60.000 MW. sampai sekarang PLN masih menghitung potensi energi terbarukan.

Energy terbarukan?
Bersama kita Bisa

Cuk san
Staff BPPT Pusat Jakarta

Review singkat tentang stabilitas pada power system

Terjadinya osilasi frekuensi rendah (Low frequency oscillation) merupakan masalah yang sering terjadi dipower system, masalah ini disebabkan beberapa hal diantaranya karena adanya gabungan berbagai jenis pembangkit, parameter sistem yang berubah-ubah, sistem yang tidak linear dll, selain itu seperti kita ketahui bahwa Pembangkit listrik tenaga angin (PW) yang ramah lingkungan semakin meningkat keberadaannya untuk men-supply dan tergabung dengan jaringan interkoneksi. Kecepatan angin yang berfluktuasi menyebabkan daya yang dihasilkan PW juga akan berfluktuasi sebanding dengan kecepatan angin, ini akan menambah masalah osilasi di jaringan interkoneksi.
Untuk meredam osilasi di power system, salah satu peralatan yang banyak dipakai di industri adalah Power System Stabilizer atau sering disebut PSS yang terbukti handal dan relatif murah dibanding peralatan lainnya. Contoh bentuk PSS dan instalasi PSS pada pembangkit tunggal dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

Gambar 1. Contoh bentuk Power System Stabilizer

Gambar 2. Konfigurasi PSS pada Single Machine Connected to infinite Bus.

Dari gambar diatas, dapat dilihat bahwa PSS mengambil sinyal input dari angular velocity deviation (delta omega atau bisa juga masukan lain yang sesuai) dan kemudian mengeluarkan sinyal pendukung dengan cepat ke excitation system untuk meredam osilasi. Masalah selanjutnya adalah bagaimana mendesign kontroller pada PSS?
Beberapa pendekatan teori kendali modern seperti eigenvalue assignment (Zhou et al, 1992), linear quadratic regulator (Aldeen, et al, 1995) dll sudah berhasil diaplikasikan untuk mendesign kontroller pada PSS, namun teknik ini belum memasukkan system uncertainties dalam pemodelan power sistem saat mendesign kontroller, sehingga kehandalan dan robustness PSS terhadap system uncertainties belum bisa digaransi.
Untuk memperbaiki kekurangan design diatas, beberapa teori robust juga diaplikasikan untuk mendesign kontroller pada PSS seperti Hinfinity(chen,1995), (Yen,1997), Fuzzy logic dll. Namun metode ini juga menimbulkan masalah baru diantaranya struktur kontroller yang komplex sehingga sulit diaplikasikan dan life time yang belum teruji membuat industri power system masih bertahan untuk menggunakan kontroller konventional (PI atau Lead-lag Compensator) yang lebih mudah aplikasinya dan handal.
Dilain pihak, banyak juga peneliti yang mencoba menggunakan teknik baru untuk men-tuning parameter PSS dengan menggunakan heuristic method seperti tabu search(Abdel-magid,2001), genetic algorithm(Abdel-magid,1999), simulated annealing (Abido,2000) dll. namun masih disayangkan, dalam metode ini juga belum memasukkan system uncertainties didalam modelingnya, walau performancenya lebih baik dari metode pertama, metode ini juga belum bisa menjamin robustness kontrollernya pada beberapa kondisi tertentu.
Karena kelemahan-kelemahan metode diatas, banyak peneliti yang tertarik untuk menggabungkan metode kedua dan ketiga, sehingga dengan struktur yang simple dihasilkan kontroller yang handal, reliability yang bagus dan robustness kontroller juga terjamin. Banyaknya variasi gabungan metode kontroller, membuat peneliti lebih tertarik untuk mengembangkan metode yang paling mudah, simple dan cepat komputasinya.

Penulis sendiri tertarik untuk berkontribusi dalam mengembangkan salah satu metode tersebut, dan memasukkannya dalam penulisan master thesis S2, dan sudah menghasilkan beberapa paper internasional dan journal internasional.

Semoga bermanfaat..
Staff BPPT Jakarta Pusat


Cuk san

25 Oktober 2008

General operation : Hybrid Wind-Diesel-Fuel cell-Photovoltaics-Storage

Tidak adanya pembatasan dalam penggunaan energi fosil (BBM) dimasa lalu mengakibatkan semakin menipisnya persediaan sumber energi BBM itu sendiri, juga polusi dan kerusakan lingkungan diberbagai belahan dunia menyebabkan pemanasan global yang sudah mengawatirkan. untuk mengurangi masalah itu, akhir-akhir ini banyak para peneliti dan para pengajar diperguruan tinggi yang tertarik melakukan penelitian tentang pengembangan energi alternative yang ramah lingkungan. masih mahal dan rendahnya efisiensi energi terbarukan menjadikan riset ini semakin menarik untuk ditindaklanjuti. Penelitian yang tidak kalah menarik adalah pengkajian tentang gabungan system pembangkit listrik dari berbagai sumber energi terbarukan seperti Photovolatic system (PV) dan Pembangkit listrik tenaga angin (PW) dll untuk mengurangi penggunaan BBM.
Hybrid/ Kombinasi antara berbagai sumber energi terbarukan sangat potensial untuk memenuhi permintaan beban didaerah terpencil yang belum terjangkau jaringan listrik. namun Hybrid system ini harus didukung oleh bagusnya koordinasi dan pengendalian energi diantara sumber-sumber energi tersebut tentunya. Mimpi ini akan segera terwujud dengan berhasilnya penelitian untuk menekan beaya pembangunan pembangkit listrik tenaga angin yang sudah mampu bersaing dengan pembangkit tenaga BBM, juga Fuel cell (FC) yang mempunyai efisiensi yang tinggi, rendah polusi, flexibel dalam instalasinya dan berbagai keuntungan lainnya. disamping itu dengan majunya perkembangan riset di bidang teknologi semikonduktor, sehingga menghasilkan effisensi Photovoltaic (PV) semakin tinggi, harga semakin murah dan kapasitas yang semakin besar dibanding teknologi yang lama. walau jika dibanding dengan tenaga angin (PW), PV masih memiliki kelemahan karena rendahnya effisiensi di konversi energinya, power density dan harga yang lebih mahal.
Selain itu energy storage system juga sangat penting di hybrid system untuk menyerap dan melepas energi pada waktu-waktu yang diperlukan. salah satu energy storage system adalah Flywheel energy storage system (FESS) yang bekerja dengan pemanfaatn energi kinetik melalui flywheel, sehingga FESS lebih sering disebut " The kinetic energy storage". keuntungan FESS adalah besarnya kapasitas penyimpanan, effisiensi konversi yang tinggi sekitar 80-90% , awet dan bebas polusi. selain itu, kecepatan respon yang singkat membuat FESS sangat bagus untuk meredam fluktuasi yang disebabkan oleh berubah-ubahnya daya dari PW atau energi lainnya. selain FESS, Hybrid system juga memerlukan Batteray energy storage system (BESS) yang dilengkapi dengan rectifier circuit, dan DC-AC inverter karena berfungsi menyinpan energi dalam bentuk arus searah (DC). BESS lebih banyak digunakan pada saat system kekurangan daya.
Seperti kita ketahui bahwa ketidakpastian ketersediaan energi terbarukan sangat tinggi, karena dipengaruhi oleh faktor alam seperti terjadi awan/mendung atau tidak adanya angin dalam beberapa hari, akan mengakibatkan kurangnya pasokan daya ke beban atau pelanggan, sehingga untuk mengatasi itu perlu di pasang Genset Diesel (DEG) dalam kondisi stand by, agar kebutuhan daya selalu terpenuhi.
Dengan menggabung semua system diatas maka terbentuklah system gabungan dengan nama Hybrid Wind-Diesel-PV-FC-FESS/BESS system. agar lebih mudah dalam memahaminya, hybrid power system dari berbagai sumber energi diatas dapat dilihat pada konfigurasi dibawah ini.




Gambar 1. Konfigurasi Hybrid power system generation

Sedangkan blok diagram dapat dilihat di bawah ini




Gambar 2. Blok diagram Hybrid power system generation

Demikianlah sedikit tentang gambaran umum Hybrid Wind-Diesel-Fuel cell system. semoga bermanfaat dan menambah ketertarikan untuk mengembangkan energi terbarukan.

Cuk san

22 Oktober 2008

About me

Cuk Supriyadi Ali Nandar namaku, lahir di Blora, 15 Januari 1980.
Riwayat singkatku ada disini:
SD berlalu di SDN 1 Gagakan, Sambong ( Satu desa Satu Kecamatan), kemudian berlanjut ke SMPN1 Cepu ( Beda Kecamatan, Satu Kabupaten), 3 tahun tak terasa sudah harus lulus dan kemudian Hijrah ke Magelang, untuk sekolah di SMUN 1 Muntilan ( Beda Kabupaten, satu Propinsi), disinilah aku bertemu Jodoh, walau waktu SMU masih sok Cuek. Setelah lulus SMU , hati ini tidak mau jauh dari magelang, akhirnya dengan susah payah diterima S1 di Teknik Elektro, UGM, Yogyakarta ( Beda Propinsi, Satu Pulau"Jawa: red*").
Cukup 4 tahun di yogya, walau dengan berat hati, perjalanan berlanjut ke Batam karena diterima Kerja di Panasonic Batam ( Beda Pulau, satu negara), berbekal uang seadanya, kuberanikan melamar dan menikahi teman SMU, dan dengan segala pertimbangan yang seksama akhirnya memutuskan keluar dari Batam dengan membawa oleh-oleh 1 anak berusia 6 bulan dan 1 istri setelah 3 tahun bekerja.
Tak begitu lama, dapat panggilan di Badan Pengkajian dan penerapan Teknologi (BPPT Pusat) Jakarta, satu tahun ikut nimbrung beberapa proyek, harus ditinggal sementara karena mendapat Beasiswa S2 dari AUN/Seed-net JICA(Japan) di King Mongkut's Institute of Technology Ladkrabang, Thailand ( Beda Negara, Satu ASEAN) sampai Sekarang...

Minat penelitian:
Dengan bekal S1 di bidang Kontrol, dan bekerja diarea Power System, terjadilah perkawinan antara Kontrol dan Power system yang melahirkan minat pertama yang bernama" Power System Dynamic dan Stability", karena saat menempuh S2 ada kolaborasi dengan Kyushu University tepatnya Prof. T.Goda sebagai pasangan kedua, tidak begitu lama terlahir minat kedua dengan nama" Microgrid Power Generation" khususnya di Renewable energy. selain itu, tuntutan profesi di Instansi pemerintah yang terkadang dilibatkan dalam penyusunan kebijakan & standarisasi, lahirlah sibungsu, namanya " Kebijakan Energy Pemerintah Indonesia", sementara 3 minat Cukup, namun bisa bertambah sewaktu-waktu.

Kesenangan :
Kumpul Anak istri

Sampai sekarang masih terdaftar sebagai
Staff di Pusat Teknologi Industri Manufaktur, BPPT
Jl. MH Thamrin No.8 Jakarta Pusat

Apa menariknya belajar microgrid power system?


Keterbatasan bahan bakar minyak (BBM) membuat semakin mahalnya harga BBM tersebut. Kenaikan harga BBM yang tidak diikuti dengan kenaikan daya beli masyarakat akan menimbulkan masalah yang sangat kompleks mulai dari masalah ekonomi, sosial dan keamanan. Untuk mengurangi beban penggunaan BBM, ada beberapa energi alternatif yang sekarang banyak dilakukan riset baik dari segi harga keekonomiannya maupun dari segi keefektifannya.

Sekarang ini banyak peneliti dan para pengajar yang tertarik pada riset tentang renewable energy seperti tenaga angin, tenaga surya, tenaga mikro hidro dll. Banyak keuntungan yang diperoleh dari renewable energi diantaranya adalah aspek ramah lingkungan, namun ada beberapa alasan yang mengapa energi ini masih sedikit diterapkan dari total energi yang dikonsumsi masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Diantara alasan tersebut adalah masih mahalnya beaya investasi awal yang sulit dijangkau oleh masyarakat Indonesia yang notabene memiliki daya beli yang relative rendah.

Tidak hanya masalah investasi awal, masalah pengoperasian dan pengendaliannya juga perlu perlakuan khusus dibanding dengan pembangkit listrik yang konvensional. Seperti kita ketahui bahwa sumber energy terbarukan sangat fluktuatif dan sulit diprediksi secara pasti, sehingga tenaga yang dihasilkanpun akan ikut berfluktuatif terhadap waktu, sebagai contoh tenaga angin, kecepatan angin akan berubah-ubah sangat cepat terhadap waktu, sehingga jika dirubah menjadi listrik akan menghasilkan output yang fluktuatif baik tegangan, frekuensi maupun power.

Sedangkan di pihak user (pelanggan), diharapkan terjaminnya kestabilan tegangan dan frekuensi sehingga disinilah pentingnya pengendali yang bagus dan handal. sedangkan untuk mengatasi ketidakpastian power (daya) yang dihasilkan, diperlukan sumber tenaga lain seperti pembangkit listrik tenaga diesel yang diparalel dengan nya sehingga system seperti ini sering disebut Hybrid Wind-diesel power generation. Selain diesel, ada beberapa alternatif lain yang bisa dikoneksikan dengan system tersebut diantaranya adalah tenaga surya, fuel cell, microhydro dll. sehingga jika system tersebut membentuk suatu jaringan kecil itulah yang disebut microgrid power generation, yang masing-masing sumber tenaga tersebut juga mempunyai karaktersitik yang berbeda-beda pula.

Bagimana cara koneksinya, skema kontrolnya dan kapan masing-masing sumber energi digunakan?
Apa yang dilakukan ketika terjadi kelebihan sumber energy atau sebaliknya?
Apa saja peralatan pendukungnya?
Berapa beaya per KWh-nya untuk masing-masing jenis pembangkit?
Itulah yang membuat penelitian microgrid semakin menarik.

Cuk supriyadi
*Power System Dynamic and Stability
*Energy terbarukan
Staff Pusat Teknologi Industri Manufaktur
BPPT Pusat Jakarta

Ketika rasa lezat tidak lagi di lidah

Hari yang dinantipun tiba...
hari apa itu? hari dimana orang akan rugi jika tidak ingin melaluinya " Hari -H- Pernikahan", hari yang dalam menantinya pun akan bercampur berbagai rasa : rasa gelisah (angel turu), cemas (sido ora yo?) dan yang pasti senang (sopo sing ra seneng) .
==== Terjadilah pernikahan itu dan kwajiban lain-nya==== untuk bagian ini dilompati saja
Lanjut saja cerita ke beberapa bulan setelah nikah. Ternyata beda daerah, beda budaya dkk antara aku dan istri membuat adanya perbedaan pula dibeberapa sisi (walau aku pernah tinggal 3 tahun didaerahnya, bukan untuk pacaran tapi untuk sekolah"teman sekolah ya?:red*"). Perbedaan itulah yang menjadikan kami harus beradaptasi...adaptasi...dan adaptasi. Salah satunya adalah adaptasi makanan. diantara perbedaan itu:
saya suka pedas dan asin..istri suka manis.
saya suka sayur gurih...istri suka sayur pahit.
saya suka sayur kuah santan..istri suka oseng atau kuah bening.
saya tidak suka lalapan...istri suka sekali tumbuhan jenis rumput mentah itu.
Kesimpulannya hampir semua menu makanan kesukaan kami berbeda. Tapi kalau jodoh pasti ada persamaannya, minimal ada 1(satu) yaitu maunya makan murah atau bahkan gratis (cocok dan sedang dilestarikan sampe sekarang)

namun, perbedaan itu menjadi awal dari keindahan, kelucuan dan keasyikan yang sangat mengesankan, dimana lezatnya makanan yang kurasakan sejak aku lahir sampai manikah, harus berubah dalam waktu yang relatif singkat, kelezatan itu tidak lagi ada di lidah, namun berpindah ke bawah.
di tenggorokan? bukan, ada dibawah itu
di Dada? bukan, masih ke bawah lagi
di Lambung? bukan, tapi ada sekitar itu, tetangga dekat dan masih satu RT kali
jadi, dimana na karp?
sabar...bagian itulah yang menjadikan aku takluk...takluk..dan takluk, yang membuat sayur manis, sayur pahit, sayur kering (istilah lain "oseng2"), sayur bening dan lalapan, bahkan buah durian yg dulu muak, sekarang semua itu terasa lezat dan lezat sekali (kecuali kalau basi).
Semua itu karena " Hati", hati yang diliputi rasa "cinta, kasih dan sayang" yang membuat aku tidak berani menyakiti hatinya, dan akhirnya akupun terdorong, terhempas dan terjurumus ke makanan2 yang dulu sangat tidak aku sukai.
sekarang, apapun makanan yang disuka istri, hampir 100% aku juga suka. walau masih ada satu jenis makanan yang belum bisa aku sukai yaitu "PETE". namun tidak apa2. kl dulu ada 1 persamaan. wajar dan normal kalau sekarang ada 1 perbedaan.
kl istri tanya : Mau dimasakkan apa mas?
jawabnya : apapun masakannya, yang penting dikau yang masak dan halal.
( aduh, jadi kepengan masak bareng istri)
ketika ditanya : disimpan dimana gulanya?
jawab : Ku simpan rapi di "HATI"...

Kesimpulannya :
" Rasa Lezat tidak lagi dilidah, tapi sudah pindah (bawah:red*)"

cuksan
' Lele dan Tempe penyet-an yuk'

My Publication paper

BOOK CHAPTER
1.  Cuk Supriyadi A.N, I. Ngamroo, Sarjiya, Tumiran and Y. Mitani (2010) Design of Robust Power System Stabilizer in an interconnected Power System with Wind Power Penetrations” Wind Power Edited by S M Muyeen, ISBN 978-953-7619-81-7, 558 pages, June 2010, InTech - Open Access Publisher, Austria.
2. Cuk Supriyadi A.N, T. Hashiguchi, T. Goda and Tumiran (2011), Control Scheme of Hybrid Wind-Diesel Power Generation System”  From Turbine to Wind Farms - Technical Requirements and Spin-Off Products, Edited by: Gesche Krause, ISBN 978-953-307-237-1, InTech, April 2011

JOURNAL
1. Cuk Supriyadi A.N, " Robust PI control of smart controllable load for frequency stabilization of microgrid power system" International Journal of Renewable Energy, Article in Press, Elsevier-Science Direct, 2012. 
2. Cuk Supriyadi A.N, " Design of Robust Power System Stabilizer Considering Less Control Energy, International Journal of Power Electronics and Drive Systems (IJPEDS), Vol.2, No. 1, March 2012.
3. Cuk Supriyadi Ali Nandar, Takuhei Hashiguchi and Tadahiro Goda, " Stabilization of Grid Connected Wind and PV System by Coordinated PSS and Battery Controller, ASEAN Engineering Journal, 2012.
4. Cuk Supriyadi A.N, " Design of Robust Frequency Control for Stabilization in a Hybrid Wind-Diesel Power System" Brunei Darussalam Journal of Technology and Commerce, 2010.
5. Cuk Supriyadi A. N, T. Hashiguchi and T. Goda (2011)" Robust PI-based Frequency Control of Isolated Wind-Diesel Power System with Coordinated Governor, Pitch and Battery Controller" IEEJ Transactions Special Issue.
6. Cuk Supriyadi A.N, T. Hashiguchi, T. Goda and T. Tsuji (2012) ” Design on the Coordinated Robust Controller of SMES and Blade Pitch for Smart Grid Power System" Journal of IEEJ Transactions on Electrical and Electronic Engineering, Vol.7, No. 4, July 2012 issue.
7. A. N. Cuk Supriyadi, I. Ngamroo, S. Dechanupaprittha, M. Watanabe and Y. Mitani (2010). “GPS synchronized phasor measurement units based-wide area robust PSS parameters optimization”. European Transactions on Electrical Power. Article first published online: 26 APR 2010 DOI: 10.1002/etep.446.
8. I. Ngamroo, Cuk Supriyadi A. N., S. Dechanupaprittha, M. Watanabe and Y. Mitani (2010). “Wide area robust SMES controller design using synchronized PMUs for stabilization of interconnected power system with wind farms”. IEEJ Transactions on Electrical and Electronics Engineering, Vol.5, No.4, July 2010, pp.428-438.
9.  I. Ngamroo, A. N. Cuk Supriyadi, S. Dechanupaprittha, M. Watanabe, Y. Mitani (2009). “A robust SMES controller design for stabilization of inter-area oscillations based on wide area synchronized phasor measurements”. Electric Power Systems Research, Vol. 79, Issue 12, December 2009, pp. 1738-1749.
10. Issarachai Ngamroo, Cuk Supriyadi A.N, Sanchai Dechanupaprittha, Yasunori Mitani (2008) ” Power Oscillation Suppression by Robust SMES in Power System with Large Wind Power Penetration" Journal of Physica C, Superconductivity and It's applications.
11. Cuk Supriyadi A. N, and Issarachai Ngamroo (2008)" Parameters Tuning of Robust Power System Stabilizer in an Interconnected Power System with Wind Power Penetrations " Journal of Cybernetics and Systems, Vol. 1, No.2.
12. Tumiran, Cuk Supriyadi A.N, Sarjiya, "Power Oscillation Damping Control using Robust Coordinated PSS and TCSC" TELKOMNIKA, Vol.9, No.1, April 2011, pp. 65~72.
13. Cuk Supriyadi A.N (2008), “Paramater Optimization of Pitch Controller for Robust Frequency Control in an Isolated Wind-Diesel Hybrid Power System using Genetic Algorithm” TELKOMNIKA  Vol. 6, No. 3,  December 2008 , pp 145 - 154

CONFERENCE PAPER
1. Cuk Supriyadi A.N,H. Takano, J. Murata, T. Hashiguchi and T. Goda," Adaptive Frequency Control for Hybrid Wind-Diesel Power System using System Estimator " October 30- November 2, 2012, Auckland, New Zealand.
2. Cuk Supriyadi A.NT. Hashiguchi and T. Goda (2012), " An Adaptive Control Design for Power System Stabilizer Based on Reference Model" The international Conference on Electrical Engineering 2012 (ICEE 2012), July 8-12 July 2012, Kanazawa, Japan.
3. Cuk Supriyadi A.NT. Hashiguchi and T. Goda (2012), "Design of Smart Distributed Load Control for Isolated Renewable Energy Power System", International Conference on renewable energy: generation and Applications (ICREGA 12), March 4-7 2012, Al-Ain, UAE.
4. Cuk Supriyadi A.NT. Hashiguchi and T. Goda (2011), " Parameter Optimization of PSS and Fly Wheel Controller on Grid Connected Wind and PV System" The 4th AUN/SEED-Net Regional Conference on New and Renewable Energy, Ho Chi Minh City, Vietnam.
5. Cuk Supriyadi A.NT. Hashiguchi and T. Goda (2011), “Robust Frequency Control in an Isolated Power System using Battery Energy StorageSET2011, 10th International Conference on Sustainable Energy Technologies, İstanbul, TÜRKİYE, 4-7 September 2011.
6. Cuk Supriyadi A.NT. HashiguchiT. Goda and T. Tsuji (2011), “ Parameter Optimization of Governor and Pitch Controller on an Isolated Power System” IEEJ Conference, March 2011, Osaka, Japan.
7. Cuk Supriyadi A.N, T. Hashiguchi, T. Goda, Sarjiya, D. Wijaya, and Tumiran,(2011) "Simulation Study of Control Strategy for Grid Connected PV and Wind Generation Systems" 28 July 2011, Yogyakarta, Indonesia.
8. Cuk Supriyadi A.N, T. Hashiguchi and T. Goda (2010) “Design of Robust Static Var Compensator to Enhance Voltage Stability in a Smart grid Power SystemProceedings of 2010 3rd International Conference on Power Electronics and intelligent Transportation System, 20-21 November 2010, Shenzhen, China.
9. I. Ngamroo, Cuk Supriyadi A.N, S. Dechanupaprittha and Y. Mitani (2009). Stabilization of tie-line power oscillations by robust SMES in interconnected power system with large wind farms. Proceedings of 2009 IEEE Transmission & Distribution Asia Conference & Exposition, 26-30 October 2009, Seoul, Korea.
10. Cuk Supriyadi A. N, I. Ngamroo, S. Dechanupaprittha, M. Watanabe, Y. Mitani, T. Hashiguchi and T. Goda (2009). GPS synchronized phasor measurement units based-wide area power system stability control. Proceedings of the 1st AUN/SEED-Net Regional Workshop on Information & Communication Technology (RW-ICT 2009), 3-4 March 2009, Bangkok, Thailand, pp.8-14.
11. Cuk Supriyadi A. N, Tumiran, I. Ngamroo and T. Goda (2009). Coordinated esign of PSS and AE-based controller for stability improvement in a microgrid system. Proceedings of The 2009 ASEAN Symposium on Power and Energy Systems, (EEE.RC.ASPES 2009), 28-29 September 2009, Hua Hin, Thailand, Paper PS-12.
12. Cuk Supriyadi A.N, Issarachai Ngamroo, Somyot Kaitwanidvilai, Anantawat Kunakorn, Takuhei Hashiguchi and Tadahiro Goda (2007) “Robust power system stabilizer design based on genetic algorithm-fixed-structure H∞ loop shaping control” Proceedings of IEEJ-IET Joint Symposium on Advanced Technology in Power Systems, 19-20 November 2007, Bangkok, Thailand, pp.7-12.
13. Cuk Supriyadi A.N , I. Ngamroo,S. Kaitwanidvilai, A. Kunakorn,T. Hashiguchi and T. Goda (2008) “H∞ Loop Shaping-based Robust Control Design of PSS and TCSC for Dynamic Stability Enhancement“ The 5th International Conference in Electrical Engineering/Electronics, Computer, and Information Technology (ECTI 2008), 14 – 17 May 2008, Krabi, Thailand. Vol. 2, pp.965-968.
14. Cuk Supriyadi A.N, Issarachai Ngamroo, Somyot Kaitwanidvilai, Anantawat Kunakorn, Takuhei Hashiguchi and Tadahiro Goda (2008) "Robust Pitch Controller Design in Hybrid Wind-Diesel Power Generation System" The 3rd IEEE Conference on Industrial Electronics and Application (ICIEA 2008), 3 ~ 5 June 2008, Singapore. Vol. 2, pp.1054-1059.
15. Cuk Supriyadi A.N, Issarachai Ngamroo, Somyot Kaitwanidvilai, Anantawat Kunakorn, Takuhei Hashiguchi and Tadahiro Goda (2008) “Robust power system stabilizer design based on genetic algorithm-fixed-structure H∞ loop shaping control” The 17th International Federation of Automatic Control (IFAC 2008), 6 ~ 11 July 2008, Seoul, Korea, pp.11086-11091.
16. Cuk Supriyadi A.N, Issarachai Ngamroo, Anantawat Kunakorn, Sanchai Dechanupaprittha, Masayuki Watanabe, Yasunori Mitani,Takuhei Hashiguchi and Tadahiro Goda (2008) "Inverse Additive Perturbation-Based Optimization of Robust PSS in an Interconnected Power System with Wind Farms"SICE2008 International Conference on Instrumentation, control and Information technology, 20~22 August,2008, Tokyo, Japan.
17. Cuk Supriyadi A. N, I. Ngamroo, S. Dechanupaprittha, and Y. Mitani (2008) “Suppression of Tie-line Power Oscillation using Robust SMES Controller in Interconnected Power Systems with Wind Farms “ IEEJ-IET Joint Symposium on Advanced Technology in Power Systems, 3-5 November 2008, Bangkok, Thailand.
18. Cuk Supriyadi A. N, I. Ngamroo, S. Dechanupaprittha, M. Watanabe and Y. Mitani (2008) “ Wide Area Robust Power System Stabilizer Design based on Synchronized Phasor Measurement Units” IEEJ-IET Joint Symposium on Advanced Technology in Power Systems, 3-5 November 2008, Bangkok, Thailand.
19. Cuk Supriyadi A. N, I. Ngamroo, Sanchai Dechanupaprittha, Masayuki Watanabe and Yasunori Mitani (2008) ”Wide Area Robust Power System Stabilizer Design using Synchronized Phasor Measurement Units” EECON31, 29~31 October 2008, Thailand.
20. Cuk Supriyadi A. N, Issarachai Ngamroo, Sanchai Dechanupaprittha and Yasunori Mitani (2008) “Robust SMES Controller Design based on Inverse Additive Perturbation for Stabilization of Interconnected Power Systems with Wind Farms” EECON31, 29~31 October 2008, Thailand

21 Oktober 2008

Potensi dan peluang PLTMH di Indonesia


Dari berbagai sumber

Seperti kita ketahui bahwa salah satu aspek penting dalam perhitungan pertumbuhan perekonomian dan kesejahteraan suatu negara adalah tingkat pertumbuhan listriknya. Berdasarkan data Departemen Energi dan Sumber Daya Alam Republik Indonesia, kapasitas terpasang pembangkit listrik di Indonesia saat ini adalah sebesar 29.705 MW dengan sumber energi primer untuk pembangkit tenaga listrik berupa batubara sebesar 48,8%, gas (17,0%), BBM (11,4%), Panas Bumi (6,1%), Hidro (9,1%), dan lainnya seperti biofuel, batubara hybrid sebesar 7%.

Deangan kapasitas terpasang sebesar itu, ratio elektrifikasi negara kita saat ini masih sekitar 64,3% dan ratio desa berlistrik sebesar 91.9%. Adapun sasaran kelistrikan adalah tercapainya ratio elektrifikasi sebesar 65,3% pada tahun 2009, 67,2% pada tahun 2010 dan 100% diseluruh Indonesia sebelum Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke 75 di tahun 2020 . Sedang ratio desa berlistrik diharapkan tercapai 100% pada tahun 2010.

Namun anehnya, dengan rendahnya ratio elektrifikasi ini, penggunaan energi di Indonesia tergolong boros. Ini bisa diukur dari angka intensitas energi. Dibandingkan dengan negara pengimpor energi seperti Jepang, misalnya, penggunaan energi di Indonesia jauh lebih boros. Sedangkan bila dibandingkan dengan negara-negara ASEAN misalnya Philipina, intensitas energi Indonesia masih lebih besar. Menguatnya harga minyak mentah belakangan ini menjadi momentum untuk meningkatkan efisiensi penggunaan atau konsumsi energi dan mengoptimalkan sumber energi lain terutama energi terbarukan, salah satu energi terbaharukan yang sangat potensial adalah Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH).
Menurut data departemen ESDM RI, Potensi tenaga air tersebar hampir di seluruh Indonesia dan diperkirakan mencapai 70.000 MW, sementara pemanfaatanya baru sekitar 6 persen dari potensi yang ada. Padahal PLTMH sangatlah menguntungkan untuk daerah yang mempunyai potensi air dengan beberapa kelebihan sebagai berikut

Keunggulan :
a. Potensi energi air yang melimpah;
b. Teknologi yang handal dan kokoh sehingga mampu beroperasi lebih dari 15 tahun;
c. Teknologi PLTMH merupakan teknologi ramah lingkungan dan terbarukan;
d. Effisiensi tinggi (70-85 persen).

Namun, menurut Dirut PLN selama 10 tahun terakhir tidak ada pembangkit baru yang menggunakan tenaga air, padahal energi air atau hydro memiliki potensi cukup besar. Tetapi hingga sekarang baru sekitar 3.529 MW (6%) tenaga listrik yang telah dimanfaatkan berasal dari 203 unit bendungan air. Dari jumlah itu, kontribusi terhadap pasokan listrik ke sistem masih sangat kecil. Artinya, sebagian besar pasokan listrik berasal dari energi minyak dan batu bara yang selalu memerlukan biaya cukup besar.

Untuk itu, rencana tahap kedua proyek 10.000 MW akan dibangun 10 bendungan baru untuk memenuhi 7.000 MW. strategi tersebut didukung oleh murahnya biaya operasional untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yaitu Rp 140 untuk menghasilkan satu kWh. Pembangkit yang menggunakan batu bara memakan biaya Rp 500 per kWh. Adapun pembangkit bertenaga diesel berbiaya Rp 3.000 per kWh. Daerah yang berpotensi untuk dibangun bendungan baru di antaranya Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, dan beberapa provinsi di Jawa.

Ayo kembali ke alam…Kembangkan renewable energy bersama..